Lima Perihal Sederhana yang Sering Terlupakan dalam Merintis UKM (repost http://www.kompasiana.com/heryanto123)

INFO: ARTIKEL INI MERUPAKAN REPOSTING DARI ARTIKEL TULISAN SDR. HENDRIK RIYANTO di KOMPASIANA.COM

Lima Perihal Sederhana yang Sering Terlupakan dalam Merintis UKM

26 Desember 2015 07:26:19 Diperbarui: 26 Desember 2015 07:55:20
Dalam membangun sebuah usaha yang baru, secara garis besar yang diutamakan biasanya ialah faktor-faktor kunci keberhasilan. Bahkan segala tips dan trik pengusaha yang telah lebih dulu sukses, dicermati dan diteliti dengan fokus serta penuh kosentrasi, mulai dari titik awal hingga sampai titik puncaknya dalam membangun usaha. Akan tetapi sangat jarang yang mau mempelajari, apalagi membahas kegagalan demi kegagalan yang dialami sebelumnya!
Ada sebuah kalimat cukup bijak mengatakan:
“Kunci keberhasilan yang terlewatkan, akan menjadi kunci kegagalan yang menyertai seiring langkah usaha anda”
Sebelumnya Saya sedikit menggaris bawahi, bahwa secara spesifik artikel ini lebih tertuju kepada yang telah menikah (khususnya saya sendiri untuk berbagi apa yang dialami). Yang mana banyak kepala rumah tangga mengambil keputusan keluar kerja, dan mencoba untuk merintis usaha sendiri. Jadi tidak ada maksud untuk para pengusaha di usia muda yang telah berdikari, sehingga saat membangun mahligai pernikahan telah pada posisi mapan.
Berawal dari pengalaman konveksi teman dekat (sahabat) saya, disaat 1-3 tahun permulaan semuanya berjalan dengan lancar sesuai yang diharapkan atau direncanakan setelah mengundurkan diri dari kantornya. Akan tetapi selanjutnya ada kejadian yang tidak terduga, usahanya gulung tikar hingga rumah, kendaraan serta yang lainnya menjadi disita pihak bank. Bahkan ternyata, rekan relasinya pun ada beberapa yang mengalami perihal yang sama, bahkan jauh lebih berat yang dihadapi.
Sebagai sahabat, saya hanya bisa ambil sikap mendengarkan segala keluh kesahnya dan memberikan motivasi sebisa mungkin, sekalian menimba kisah pengalaman yang penting untuk disimak dan dipelajari. Jika tentang bantuan, sebuah ucap syukur karena keluarga besarnya begitu solid dalam tolong-menolong agar dia bisa kembali bangkit.
Kemudian beberapa hari selanjutnya, saya coba sharing and connecting solusi kepada seorang kenalan lama yang memiliki usaha yang serupa, tapi telah berjalan lebih dari 10 tahun lamanya sampai dengan sekarang masih tetap ditekuni. Selain itu juga, saya meminta saran kepada teman dekat saya yang lain, yang mana masih tetap eksis dalam menggeluti UKM konveksi.
Adapun beberapa kesimpulan singkat dan sederhana yang bisa saya tangkap, dari dialog yang saya lakukan antara sahabat yang sedang jatuh (semoga keberhasilan yang tertunda sobat, amiin) dan masukan solusi dari teman yang masih tetap bertahan:
1. Gagal saling memahami dengan pasangan hidup.
Terkadang sikap yang menggebu-gebu dilangkah awal, sering melewatkan cikal bakal menambang kesuksesan yaitu: mensinergikan pemahaman kepada pasangan. Tidak cukup hanya saling menyetujui dan saling sepakat semata (apalagi hanya berdasarkan rasa cinta😀 ), tapi lebih dari itu ialah menyampaikan visi dan misi baik dalam jangka pendek, menengah maupun dalam jangka panjang. Setelah menemui keselarasan, lalu peganglah komitmen dan tanggung jawab secara bersama-sama.

Kesalahan pertama suami ialah, saat istri dijadikan sebagai “bawahan”. Yang mana hanya sekedar mengikuti apa yang di perintahkan oleh “atasan”, bahkan saya pernah menyaksikan seorang istri tidak boleh sumbang saran atau sumbang pendapat ketika usaha berjalan! Lalu harus bagaimana sebaiknya?, maka jalan terbaik menjadikan istri rekan yang sejajar, rekan yang bisa juga turut andil memberi masukan dalam mengambil keputusan, sehingga bisa saling mengawasi dan bisa saling memberi introspeksi ( yang pasti bukan saling memberi intruksi, repot kalau gitu, hehe )

Kesalahan kedua suami yaitu, keliru mengkaji skill atau kemampuan istri. Misalkan istri yang tidak piawai dalam mengatur keuangan malah diberikan kepercayaan tersebut, atau istri yang memiliki naluri marketing malah diberikan bagian untuk manajemen usaha. Atau bahkan, banyak juga yang sama sekali tidak melibatkan istri dengan berbagai alasan dan kendala yang berbeda-beda. (bila istri masih setengah hati mendukung, alangkah lebih baik ditunda rencananya dan yakinkan terlebih dahulu)

2. Gagal memahami unsur utang-piutang.
Berani itu modal penting, tapi terlalu berani malah membawa alamat celaka dalam merintis usaha. Karena pemahaman berani gagal jangan diterjemahkan untuk dipastikan pada kegagalan yang mengarah pada kenyataan yang sebenarnya, sehingga tanpa ada perhitungan yang matang langsung di eksekusi sebuah keputusan!
Misalkan dalam peminjaman modal yang melebihi kemampuan (pendapatan), sehingga tiada lagi ketenangan dalam mengembangkan usaha, malahan fokus sentral lebih banyak dihabiskan/ tersita dalam menutup rutinitas utang yang harus dibayar.
Sudah lumrah bila bagi sebagian pengusaha kecil-menengah yang baru merintis, mengalami beberapa kendala dalam mengajukan pinjaman. Apalagi jika berkas tidak sesuai kriteria pihak bank, yang mana terkadang menggunakan sedikit trik dengan manipulasi data input – output usaha.
Akan tetapi letak permasalahannya bukan di acc atau tidaknya, tapi tingkat kesanggupan dalam pengembalian angsuran? Malah dari beberapa peristiwa dilapangan, sangat disayangkan separuh uang pinjaman malah digunakan untuk keperluan pribadi, yang tiada sangkut-paut dengan roda usaha.
Selanjutnya terlalu memberanikan diri memberikan piutang kepada konsumen atau pelanggan jangan dibiasakan, sehingga bila terjadi pada beberapa orang malah membuat pemasukan menjadi terparkir diluar, tanpa bisa dipastikan kapan bisa masuk pada kas keuangan usaha. Bahkan yang jamak terjadi malah kemacetan, atau ada juga yang tidak bayar serta yang menghilang sama sekali! memang sangat penting membangun kerjasama melalui saling menaruh kepercayaan, tapi segalanya harus mengikuti koridor aturan yang telah dijadikan komitmen.
Takkan ada masalah yang terjadi jika keuangan memang kuat, tapi akan menjadi buah simalakama kedepannya bila tiada keuangan yang bisa menopang ketika terkena goyangan. Contoh sederhana: “dia pelanggan kita selama setahun ini, biarlah sekali dua kali diberikan barang terlebih dahulu” Lalu bagaimana jadinya jika pelanggan itu nakal? meminta 2x bayar 1x, atau meminta 3x bayar 1x. dan yang membahayakan bila diikuti oleh pelanggan lain, “kok dia diberi barang, sedangkan kita harus bayar dulu baru terima jadi?”.
Akhirnya timbul kecemasan kehilangan pelanggan, sehingga amburadullah manajemen yang diatur sedemikian rupa disebabkan efek domino.. “jika sesuatu hal dianggap biasa, maka akan menjadi kebiasaan. Lalu, bagaimana jika itu unsur yang tidak baik dalam usaha anda?”
3. Gagal memegang prinsip “uang lupa”
Sebagian Para wirausaha pemula (lingkup kecil-menengah), selalu membuat kalimat yang senada yaitu: modal pas-pasan, sudah pasti akan all-in untuk merintis tatkala mengembangkan usaha.
ternyata itu kurang tepat (walau tentunya tidak salah juga), dalam artian mulailah dari menanam benih tapi jangan ditanam semuanya, melainkan sisihkan sebagian kecil untuk menjaga hal-hal yang tak terduga, apalagi masih tahap mencoba membuka lahan.
Selain itu, yang terpenting ialah manfaatnya agar membiasakan diri untuk prinsip “uang lupa”. Sehingga ketika usaha mulai menunjukan pucuk-pucuk laba, maka otomatis akan teringat dengan sendirinya, harus ada keuntungan yang disisihkan sebagian kecil untuk antisipasi atau berjaga-jaga di pada suatu hari. walau kebanyakan aturan klasik berbicara bahwa. modal dan keuntungan biasanya kembali diputarkan demi tujuan membesarkan usaha. Namun, alangkah lebih bijak bila mampu menahan terlebih dahulu dengan memaksimalkan modal awal (tanpa melibatkan keuntungan tersebut secara totalitas).
Kisah ilustrasi : disaat memiliki sebuah perahu beserta beberapa pancingan di sebuah danau, kemudian menghasilkan keuntungan yang lumayan. Maka keuntungan itu jangan dibelanjakan peralatan serupa agar bisa memancing di danau yang sama, melainkan ditabung, agar esok atau lusa bisa beli kapal ukuran sedang, dan tentunya untuk membuat cabang di danau baru, atau bahkan mencoba merintis di lepas pantai dengan peralatan jaring. prinsip uang lupa dalam sistem perbankan mungkin mirip sebagai deposito khusus (sekali simpan udah lupakan saja, tapi tidak hilang tentunya😀 ), sehingga berbeda dengan tabungan biasa yang bisa kapan saja ditarik sesuai kebutuhan (terlalu licin). Disinilah salah satu titik krusialnya, disaat kartu debit begitu sangat dekat dan mudah, timbul keinginan segalanya akan serba praktis.
Contoh dalam pembelanjaan bahan produksi, cara yang dipilih dengan penggunaan gesekan supaya cepat dan efisien. Padahal cobalah mulai sedikit persulit dengan menunggu uang di luar masuk terlebih dahulu. Mengapa? Setidaknya membangun keyakinan di alam bawah sadar pribadi, bahwa cari uang itu sulit dan butuh waktu, maka ketika melakukan proses pengeluaran juga yach mainkan waktu sedikit dengan sabar.
Ada candaan ringan: “Hal tersulit untuk dilupakan ialah, tatkala kartu debit dan kredit melekat di dompet. Sekali gesek bawaan nya pengen terus gesek. saat limit terlewati, akhirnya garuk-garuk kelapa.. eeehh kepala :D”
4. Gagal melakukan inovasi,
Gagal melakukan inovasi, sehingga tertinggal dalam mengikuti perkembangan usaha yang monoton dan kaku, akan sulit mengikuti perubahan waktu serta kondisi yang begitu cepat di jaman modernisasi. Karena segalanya tiada yang mengandung kestabilan, maka dari itu sebuah pengambilan sikap fleksibiltas dan terus berusaha melakukan inovasi merupakan suatu keharusan atau kewajiban.
Memang cara paling mudah ialah mengikuti apa yang menjadi trend, lalu menyesuaikan segalanya. Namun akan lain cerita jika seandainya, bisa mendapat nama tersendiri apabila sekali waktu bisa membuat suatu gebrakan yang berbeda, maka akan ada simbol bintang yang disematkan oleh konsumen maupun rekan-rekan yang memiliki usaha yang sama. Dengan catatan penting, inovasi jangan sampai menghapus apa yang menjadi ciri khas yang telah lama dikenal konsumen, melainkan bertujuan untuk menambah keanekaragaman.
Sebuah permisalan: disaat merintis usaha konveksi yang berbahan katun dan sejenisnya, maka inovasi yang dilakukan bisa melalui varian motif design (pola pakaian) atau corak-corak unik dalam tipikal sablon. Bukannya mencoba untuk inovasi membuat celana jeans atau tas, walau dasar pengerjaan memang sama dalam jahit-menjahit. Bisa dipastikan akan keteteran dan sungguh (pendapat saya pribadi), sebuah kekeliruan yang fatal bila lamanya usaha masih dibawah 5 tahun!
5. Gagal memahami rasa aman dan nyaman
Disaat merintis usaha, pastilah ada perasaan aman bila ada peran orangtua yang memiliki kekuatan finansial yang memadai, atau ada saudara yang selalu siap membantu kapan saja dibutuhkan untuk menolong. Sehingga bisa berujung pada rasa santai/tenang berlebihan yang mungkin berakibat banyak kelalaian disaat menjalankan usaha. Padahal topangan sesungguhnya haruslah dibangun dari dalam diri sendiri, lantaran akan bersifat kokoh/kuat dalam menghadapi berbagai keadaan baik kondusif maupun sebaliknya! Tapi untuk yang tidak memiliki orangtua/saudara yang “stand by”, biasanya bisa muncul perasaan tidak aman (cemas/was-was) yang melewati kontrol diri, sehingga perlulah diantisipasi sedini mungkin dengan memperkuat ibadah dan doa kepada-NYA. karena usaha maksimal apapun, akan jauh lebih optimal hasilnya dibarengi sikap pasrah dan berserah diri kepada Tuhan yang maha esa. Selain itu, motivasi istri serta anak-anak akan lebih memperkuat rasa aman dalam zona hati serta pikiran.
Untuk nyaman dalam hal ini Saya kategorikan A dan B,
A. Nyaman yang bisa membuat lupa diri:
yaitu nyaman menjalankan usaha dan terus menerus mendapatkan keuntungan, lalu sering terlintas mencari hiburan untuk kenyamanan/memanjakan diri secara pribadi. Akan tetapi disayangkan hal itu juga bisa saja melupakan sikap dermawan, bahwa ada rijki orang lain yang sebenarnya turut serta harus diberikan kepada yang berhak. Misalkan ada tetangga atau saudara yang butuh bantuan, malah lebih memilih pura-pura tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu!
B. Nyaman yang membuat diri menjadi manusia yang lebih baik:
hanya satu tanda yang bisa diketahui ialah, menjadi seseorang yang pintar bersyukur, seseorang yang tidak lupa dari mana berawal, dan seseorang yang bisa menjadi hamba yang lebih takwa, serta tentunya selalu membantu kepada sesama yang membutuhkan (bahkan ada yang melakukan kebaikan “dalam beramal” dengan terbuka dan tertutup).
 Note: Apa yang tertulis diatas, sekedar catatan ringan yang bertujuan untuk mengingatkan saya secara pribadi agar bisa diingat serta dibaca kembali di lain waktu (artikel ini pun atas persetujuan sahabat saya), dan semoga ada yang berkenan mengkoreksi atau menambahkan untuk bisa diperbaiki. Tapi bila ada kesalahan mohon maaf atas keterbatasan dalam penyampaiannya… Salam

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s